[FR] Ke Masjid Tegalsari Ponorogo

Prolog: ceritanya, saat saya berada di kabupaten Ponorogo pada edisi liburan akhir tahun 2016 kemarin, teman saya (yang menjadi tempat singgah saya selama berada di kota ini) mengajak saya pergi mengunjungi sebuah masjid bersejarah di daerah ini..

konon masjid ini usianya sudah satu abad lebih.. dan konon pula masjid ini jadi saksi bisu akan perjuangan dakwah seorang tokoh ulama besar di kota yang berjuluk kota reog ini..

penasaran seperti apa ceritanya? simak ulasannya di bawah ini..


Hari itu senin 2 Januari 2017, saya hanya bisa menikmati suasana pagi di rumah teman saya dengan menonton tayangan TV kabel sambil menikmati internetan gratis via WiFi (kebetulan teman saya pasang kedua perangkat tsb di rumahnya). Saat itu saya memang tidak dijadwalkan akan pergi kemana-mana karena kebetulan teman sayanya sendiri tidak merencanakan (baca: akan ajak saya kemana gitu). Dan saya pun kebetulan nggak sempat memintanya. Tapi memang dari awal niat saya sowan ke rumahnya adalah satu untuk silaturahmi dan kedua ingin tahu kampung halamannya beserta suasananya seperti apa.. Hehe

 

*harap maklum, hidup di kota yang sumpek dengan penuh aktifitas & rutinitas, membuat gw kadang rindu dengan alam pedesaan yang asri nan sejuk

 

Selain karena hal di atas, kebetulan sitkon cuaca di daerah teman saya kala itu sedang kurang bagus. Jadi mungkin dia pun jadi agak malas atau ragu, kalau seumpama mau ajak saya kemana-mana.. 

 

Namun menjelang siang (sekitar jam 10an) tiba-tiba dia ajak saya ke suatu tempat. Katanya sih mau antar barang dia yang mau diservis (lupa barangnya apa), di tempat servisannya barang tersebut..


Skip, dalam sekejap kemudian kita pun berangkat dengan motornya dia dengan posisi saya dibonceng olehnya. Oh ya waktu itu cuaca di sekitar sudah agak ramahan. Namun pas di tengah perjalanan (belum nyampe nih ceritanya), kita dihadang hujan yang cukup lebat. Karena itu, kemudian kita pun ngaso sejenak di sebuah Rumah Makan kecil di pinggir jalan sambil tak lupa kita pun jajan di sana. Setelah beres jajan dan kebetulan cuaca juga sudah cerah lagi, barulah kita meneruskan perjalanan kembali ke tempat yang dituju di awal..

 

Skip, setelah kelar urusan mengantar barang yang hendak diservis tersebut, kemudian teman saya mengajak saya pergi mengunjungi masjid Tegalsari, sebuah masjid tua dan bersejarah di kota ini..

 

Selayang Pandang tentang Masjid Tegalsari:


Masjid Tegalsari adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan sekitar abad ke-18. Masjid ini terletak di desa Tegalsari kecamatan Jetis kabupaten Ponorogo. Masjid ini merupakan peninggalan Kyai Ageng Hasan Besari, seorang ulama besar yang hidup sekitar tahun 1742 pada zaman pemerintahan Pakubuwono II. Di dalam masjid tersimpan kitab yang berumur antara 150-170 tahun yang ditulis oleh Ronggo Warsito. Komplek masjid ini sekarang menjadi tujuan wisata religius di Kabupaten Ponorogo

 

Masjid Tegalsari merupakan pusat penyiaran agama Islam terbesar di wilayah Kabupaten Ponorogo pada masa itu. Di masjid itu pula didirikan Pesantren Tegalsari yang amat tersohor dan mempunyai ribuan santri, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Di antara santri-santrinya yang terkenal adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang Pujangga Jawa yang masyhur dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto.



seperti inilah tampak depan beranda masjid Tegalsari

*sumber gambar : mbah Google

Masjid Tegalsari diperkirakan dibangun sekitar pertengahan abad ke-18 oleh Kyai Ageng Hasan Besari. Pada awalnya ukuran masjid itu masih relatif kecil. Bangunan masjid diperluas lagi oleh cucu Kyai Ageng Hasan Besari, yaitu Kyai Kasan Besari agar menampung jumlah jamaah yang lebih banyak. Kyai inilah yang berhasil mengislamkan masyarakat Ponorogo sampai lereng Gunung Lawu.

 

Menurut cerita dari masyarakat setempat, pembangunan masjid ini diwarnai dengan sedikit masalah. Konon, tiang yang terbuat dari kayu jati tidak dapat berdiri tegak. Dengan kesaktian yang dimiliki Kiai Kasan Besari, kayu itupun ditampar. Aneh, tiba-tiba kayu itu berdiri yang akhirnya menjadi tiang utama dari Masjid Tegalsari.

 

Rupanya masalah tak kunjung usai. Salah satu tiang masjid yang berada di pojok tidak dapat ditancapkan ke tiang yang lain. Pasalnya, tiang itu kurang tajam ujungnya. Lagi-lagi dengan kesaktian yang dimiliki Kyai Kasan Besari memijat kayu itu hingga ujung tiang menjadi lancip. Alhasil, tiang itupun dapat ditancapkan lagi ke tiang utama tanpa memakai paku.

 

Masjid ini berarsitektur jawa dan memliki 36 tiang dan atap berbentuk kerucut. Jumlah tiang mengandung arti jumlah wali/wali songo (3+6=9) yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa dan atap berbentuk kerucut mengambarkan keagungan Allah swt.

 

Komplek Masjid Tegalsari terdiri dari tiga bagian yaitu:

 

  1. Dalem Gede: kerajaan kecil yang dulunya merupakan pusat pemerintahan

  2. Sebuah masjid

  3. Komplek makam Kyai Ageng Hasan Besari



    sumber

 

Back to trip 


Pas datang, karena kebetulan saat itu kita nggak punya waktu banyak, jadi niat kita ke sana hanya lihat-lihat, hunting foto plus sekalian sholat Dzuhur (kebetulan sudah waktunya pas ke sana). Sebenarnya sangat disayangkan sih saya ke sana nggak bisa lama. Soalnya ini kesempatan, mumpung saya lagi ada di kota ini (plus ada yang nganter pula..hehe). Kapan lagi coba saya bisa ke tempat ini. Bulan depan atau tahun depan? Kan belum tentu.. Hehe 

 

Itu juga pas teman saya nawarin "mau sekalian ziarah nggak ke makam mbah Hasan Besari?", saya tolak soalnya saya waktu itu lebih kefikiran ngejar jadwal kereta kepulangan di stasiun Madiun. Padahal hati kecil saya yang lain, ingin banget ziarah ke tokoh sesepuhnya masjid ini yang kebetulan lokasi makamnya berdampingan dengan masjid. Akhirnya dari pada nggak sama sekali, waktu itu kita cuma lihat-lihat area makamnya saja (tapi nggak ke dalamnya). Oh ya selain melihat area makamnya, waktu itu saya juga oleh teman diajak untuk diperlihatkan tempat ndalemnya beliau dulu semasa hidup (baca: petilasannya).. 

 

FYI: untuk tempat petilasannya ini, lokasinya agak terpisah dengan area masjid dan makamnya..tapi masih dekat koq, cuma terhalang jalan mobil saja 


beberapa spot menarik yang sempat saya ambil di masjid Tegalsari kala itu

dan ini saat di tempat petilasannya

FYI: orang yang bersama saya di foto yang terakhir itu, adalah mas Tony atau teman yang saya maksud diatas

sedang kalau yang ini, gapura pintu masuk ke makam mbah Hasan Besari

*maaf jika foto-fotonya "berbau" selfie TS semua.. wkwkwk

Walau cuma sebentar, namun waktu itu saya tetap bersyukur bisa mengunjungi salah satu tempat bersejarah di kota ini. Ya setidaknya ini jadi tambah-tambah pengalaman dan wawasan saya. Tapi saya juga berharap, semoga kelak bisa kesini lagi. Soalnya penasaran, pengen ziarah ke makam Hasan Besarinya.. Hehe 

 

Okelah teman-teman, itulah sekilas laporan tentang kunjungan saya ke masjid Tegalsari Ponorogo yang saya lakukan beberapa saat yang lalu. Semoga bermanfaat..

Post a Comment

0 Comments