[FR] Kunjungan Singkat Saya ke Masjid Agung Mataram Kota Gede Yogyakarta

Prolog: mestinya, pergi kunjungan ke tempat ini tuh nggak masuk jadwal saya karena di hari ke 2 liburan saya kali ini, saya sudah merencanakan untuk pergi ke Solo dan diusahakan berangkat pagi-pagi sekali. tapi karena diajak teman, jadinya ya "terpaksa" dan saya pun mau tak mau harus mengikutinya..

lalu, seperti apa sih menariknya tempat ini?

yuk, ikuti kisahnya di bawah ini..



Sore itu rabu 5 Juli 2017, pasca pulang dari Candi Borobudur saya numpang istirahat dan sekaligus menginap di rumah teman yang lokasinya di daerah Bantul. Terkait acara mampir ke rumah teman ini, memang sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh saya dengan saling kontak terlebih duhulu diantara kami sebelumnya..

 

*ya iyalah, kalau nggak saling kontak dulu, takutnya ntar dia nggak berkenan menerima saya..atau setidaknya, dia tahu akan kedatangan saya di waktu yang sudah saya tentukan tsb

 

Ini bukan pertama kalinya saya sowan ke rumahnya (kalau ketemu face to face malah lebih sering, walau terakhir sudah lama yakni 3 tahun yang lalu). Sebelumnya pada periode libur lebaran 2013 lalu, saya juga pernah ke sini dan waktu itu pun saya numpang menginap di kediamannya..

 

FYI: kala itu saya mampir ke rumahnya pasca pulang liburan dari kota Surabaya 

 

Skip

 

Paginya kamis 6 Juli 2017, harusnya saya sudah siap-siap otw ke Solo untuk trip liburan ke kota tersebut. Rencananya saya di sana mau berkunjung ke Keraton Solo plus Masjid Agungnya. Nah karena tempat yang pertama itu bukanya cuma sampai jam 3 sore, maka sebisa mungkin saya sampai tkp nggak boleh terlalu siang. Untuk itu, dengan berangkat pagi-pagi ke sana, diharapkan saya tiba di tkp sebelum waktu dzuhur tiba..

 

Namun di pagi itu, sebelum saya diantar oleh teman saya ke terminal Giwangan (waktu itu rencananya mau ke Solonya naik bus), saya sempat sowan dulu ke rumah seorang teman saya yang lain yang lokasinya masih di daerah Bantul juga. Selanjutnya pulang dari sini, harusnya saya langsung diantar ke Giwangan. Tetapi ntah kenapa teman saya malah membawa saya dulu ke Masjid Agung Mataram Kota Gedhe, sebuah tempat bersejarah dan merupakan warisan kebudayaaan kita di masa lampau.. 

 

Memang apa menariknya tempat ini sih?

 

Nah makanya itu, sebelum saya melanjutkan cerita lagi, maka akan saya tuliskan dulu asal usul dan sejarahnya yang saya kutip dari Wikipedia..

 

Masjid Gedhe Mataram adalah masjid tertua di Yogyakarta. Berlokasi di selatan kawasan Pasar Kotagede sekarang, tepatnya di kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan Bantul.Gapura depan masjid berbeda dengan masjid pada umumnya. Karena gapura tersebut menyerupai tempat peribadatan umat Hindu atau Budha. Bentuk gapura tersebut ada yang menyebutnya sebagai rana/kelir, di mana jika ada orang yang hendak memasuki halaman masjid harus belok ke kanan. Halaman masjid masih cukup luas. Di teras depan masjid terdapat kolam ikan kecil. Jika sudah masuk ruang utama masjid, akan terasa betul bagaimana kunonya dan nilai sejarah masjid ini. Bangunan menyerupai joglo dan tiang penyangga dari kayu jati adalah salah satunya. Kemudian mimbar imam juga terkesan klasik. Terdapat pula sebuah kotak amal yang berbentuk lucu seperti maket atau replika masjid. Di sebelah kiri bangunan masjid, terdapat jalan masuk menuju ke makam. Pintu jalan masuk juga berupa rana/kelir. Dengan tembok-tembok yang juga mempunyai desain arsitektur zaman dulu. Masjid Kotagede ini dibangun di zaman Kerajaan Mataram pada tahun 1640 oleh Sutan Agung bersama-sama dengan masyarakat setempat yang umumnya Hindu dan Budha. Memasuki halaman masjid ada sebuah pohoh beringin tua yang usianya mencapai ratusan tahun. Di sekitar pohon beringin terdapat parit yang mengelilingi masjid. Pada masa lalu, parit yang digunakan sebagai tempat wudhu, tetapi sekarang digunakan sebagai tambak.

 

Masjid ini mempunyai prasasti yang menyebutkan bahwa masjid dibangun dalam 2 tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung hanya berupa bangunan inti masjid yang berukuran kecil sehingga saat itu disebut langgar. Tahap kedua masjid dibngun Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun oleh sultan Agung dan Paku Buwono X ada pada tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan Agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yang dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi. Masjid ini sampai sekarang masih terlihat hidup. Warga masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bangunan masjid ini merupakan bentuk toleransi Sultan Agung pada waktu warga yang ikut membangun masjid yang memeluk agama Hindu dan Budha. Ciri khas Hindu dan Budha masih tampak jelas mempengaruhi banguan masjid ini seperti gapura yang berbentuk paduraksa. Bangunan inti masjid merupakan bangunan jawa brbentuk limas an, cirinya dapat dilihat pada atap yang brbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi. Keistimewaan lain yang dipunyai msajid ini adalah pada bagian luar, yang terdapat sebuah bedug lama. Bedug dulunya hadiah dari Nyai Pringgit yang sampai sekarang masih terdengar sebagai penanda waktu berdoa. Mimbar di dalam dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid. Mimbar ini adalah hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, namun mimbar asli tidak dipakai lagi. Sementara di halaman masjid akan dijumpai perbedaan pada tembok di sekelling bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri batu bata yang ukurannya lebih besar dengan warna merah tua, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara jawa. Sementara tembok yang lain mempuyai batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. Tembok yang di kiri masjid yang dibangun Sultan Agung, tembok lain hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan Agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat


*jika dirasa informasi di atas kurang lengkap, bisa cari informasi lainnya tentang artikel yang dimaksud di mbah Google 

 

Nah sekarang gimana, sudah mengerti kan kalau tempat ini tuh ternyata punya nilai historis yang tinggi? Ya kalau anda penyuka wisata sejarah dan budaya, sepertinya boleh nih dijadikan salah satu rekomendasi..

 

Ok lanjut ke cerita saya ya

 

Saya fikir tadinya berkunjung ke tempat ini tuh hanya akan menjumpai sebuah bangunan kuno, klasik nan tradisional. Karena ini masjid, mungkin secara kondisi bangunan nggak akan jauh beda dengan yang pernah saya jumpai seperti di masjid Agung Demak walau secara arsitekturnya mungkin beda (karena beda budaya bro). Namun pas saya sudahnya masuk ke dalamnya, ternyata ada hal yang berbeda dan menurut saya ini jadi keunikan tersendiri dari tempat ini..

 

Lalu, seperti apa keunikan dari masjid tersepuh di Jogja ini? Kalau penasaran, bisa dilihat foto-fotonya di bawah ini..

 

plang lokasi kunjungan, di pintu gerbang utamanya

*FYI: ternyata selain Masjid, di tempat ini juga ada peninggalan makam-makam Mataram tempo dulu..tapi pas kesini kemarin, saya nggak sempat melihatnya

gapura pintu masuk ke area Masjid

informasi seputar Masjid ini yang terpampang di papan informasi Masjid

mencoba mengintip bagian interiornya masjid (ini bagian terasnya)

kalau ini di bagian pagar pintu masuknya

*waktu itu saya nggak masuk ke dalamnya masjid (ruang utama) karena kebetulan pas kesini pas bukan waktu sholat

beberapa tempat atau bangunan di sekitar Masjid yang dulunya merupakan tempat petilasannya Raja-Raja Mataram dahulu..tempat ini juga ada yang berfungsi sebagai museum plus penjaganya yang memakai pakaian khas Jawa (Jogja khususnya)

dan salah satu keunikan dari tempat ini adalah ada semacam petilasan tempat mandinya yang dulu pernah dipakai oleh Raja-Raja Mataram

Gimana guys, setelah melihat foto-foto diatas? Cukup menarik kan tempatnya? Kalau menurut saya sih YESS. Tapi jujur karena merasa menarik itu, sempat ingin agak lamaan menyusuri tempat ini. Namun apa daya waktu tak berkenan karena saya harus segera berangkat ke Solo buat memuluskan planning holiday trip saya berikutnya..

 

*maaf jika foto-fotonya kurang banyak, maklum waktu itu sempat nggak kefikiran buat foto-foto plus waktunya nggak banyak

 

Ok, demikianlah kawan-kawan sekelumit cerita tentang kunjungan singkat saya ke masjd tertua di daerah Jogja tersebut. Untuk selanjutnya saya undur dulu, sebelum nanti saya datang kembali dengan cerita holiday trip saya di Solo..

Post a Comment

0 Comments