[FR] Melihat Keindahan Dan Keasrian Pura Parahyangan Agung Jagatkarta

Prolog: Pernah dengar nama Pura Parahyangan Jagatkarta? Harusnya jika anda tinggal di sekitar wilayah Jabodetabek, anda tahu tempat ini. Karena tempat ini lokasinya berada di wilayah ini, tepatnya di wilayah kota Bogor. Saya sendiri sebagai warga Bogor, belum terlalu banyak tahu soal tempat itu meski secara nama saya sudah sering mendengar..

Memang itu tempat apa sih? Dan apa keistimewaannya?

Nah pada hari minggu yang lalu 15 Desember 2019, saya berkesempatan mengunjungi tempat itu. Jadi sedikit tahu tentang tempat yang lokasi persisnya berada di desa Tamansari kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor tersebut. Kunjungan ini pun sifatnya dadakan, karena pas hari itu kebetulan saya sedang main-main ke villanya teman saya dan kebetulan pula lokasi villanya dekat sekali dengan lokasi tempat itu..

Lalu, cerita dan hal menarik apakah yang saya dapat di tempat tersebut?

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak field reportnya di bawah ini..


Sebelum lebih jauh anda menyimak field report ini, ada baiknya anda harus tahu dulu tentang selayang pandangnya tempat ini yang saya ambil dari laman Wikipedia..

Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ("alam dewata suci sempurna")[1] atau sering disebut hanya Pura Jagatkarta adalah pura agama Hindu Nusantara yang terletak di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Setelah dibangun, Pura Jagatkarta adalah pura terbesar di Jawa Barat dan terbesar ke-2 di Indonesia setelah Pura Besakih di Bali, dianggap sebagai tempat persemayaman dan pemujaan terhadap Prabu Siliwangi dan para hyang (leluhur) dari Pakuan Pajajaran yang pernah berdiri di wilayah Parahyangan.

Pura Jagatkarta terletak di kaki Gunung Salak, di Ciapus, Kecamatan Tamansari di Kabupaten Bogor. Pura Jagatkarta dibangun di lokasi unik di Gunung Salak karena konon Pakuan Pajajaran Sunda pernah berdiri di lokasi tersebut. Pakuan Pajajaran adalah wilayah ibu kota Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Hindu terakhir di Nusantara (bersama Majapahit) yang mengalami masa keemasannya di bawah pemerintahan Prabu Siliwangi, sebelum ditaklukkan oleh Muslim Jawa pada abad ke-16.[2]

Tata letak Pura Jagatkarta juga berdasarkan legenda bahwa titik tersebut adalah tempat di mana Prabu Siliwangi mencapai moksa bersama para prajuritnya, sehingga sebelum dibangun, sebuah Candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam (lambang Prabu Siliwangi) didirikan sebagai penghormatan terhadap Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Hindu terakhir di tanah Parahyangan. Sebagian peninggalan Pajajaran kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Jejak kaki Prabu Siliwangi tercetak pada sebuah batu yang lalu dikenal sebagai Prasasti Ciaruteun.

Akses jalan dari kaki Gunung Salak menuju Pura Jagatkarta telah diperlebar sejak pembangunannya dirintis pada tahun 1995, sehingga kendaraan bisa mencapai Pura dengan mudah. Namun karena banyaknya pengunjung yang datang untuk mengikuti upara Ngenteg Linggih atau peresmian Pura Jagatkarta, areal parkir terletak jauh dari areal pura.

Pembangunan Pura Jagatkarta dirintis pada tahun 1995 dan adalah dari hasil kerja gotong royong umat Hindu Nusantara. Pura Jagatkarta secara resmi belum selesai dibangun, tetapi bangunan pura utama seperti bagian Pura Padmesana, Balai Pasamuan Agung dan Mandala Utama telah selesai.

Sebelum masuk di areal utama Pura Jagatkarta juga terdapat Pura Melanting dan Pura Pasar Agung yang digunakan khusus untuk bersembahyang, menyempurnakan, serta menyucikan persembahan yang akan dihaturkan di Pura Jagatkarta sebagai wujud rasa syukur. Pengunjung wisatawan umumnya dilarang masuk ke pura utama, kecuali bagi yang hendak melakukan ritual bersembahyang, akses hanya hingga pelataran luar pura.

Jadi menurut keterangan di atas, tempat ini tuh adalah sebuah bangunan tempat ibadah yang tentunya buat umat agama Hindu sebagaimana namanya, yang dibangun untuk menghormati jasad dan roh Prabu Siliwangi yang merupakan seorang Raja yang sangat disegani pada pada Kerajaan Hindu tempo dulu khususnya yang berkuasa di wilayah ini yaitu Kerajaan Pajajaran..

Secara umum mungkin bangunan ini nggak ada perbedaan dengan bangunan sejenis di tempat lain. Tapi yang membuatnya jadi unik dan menarik adalah karena lokasinya yang berada di tepi kaki sebuah gunung tepatnya di Gunung Salak. Dan karena lokasinya berada di kaki gunung, makanya tempatnya jadi asri, sejuk dan indah..

Apalagi bangunan Pura itu sangat jarang ditemukan jika di Pulau Jawa terutama di daerah Jabodetabek. So makanya tak heran jika tempat ini kemudian mengundang banyak orang penasaran untuk datang ke sana..

Bukan hanya kaum umat Hindu saja lho yang sering ke sana, yang notabene tujuannya sudah pasti untuk beribadah di sana. Tapi orang-orang non Hindu pun ternyata banyak juga yang sering ke sana meski tujuannya cuma sekedar melihat-lihat bangunan ini. Apalagi kebetulan tempatnya sangat welcome buat siapa saja atau orang-orang non agama Hindu juga boleh masuk ke Pura ini..

Namun demikian, tetap ada aturan atau tata krama yang harus dipatuhi jika hendak berkunjung ke sana. Ya harap maklum, yang namanya tempat ibadah itu kan tempat suci nan sakral yang harus dijauhi dari segala hal-hal yang negatif atau yang kurang pantas secara estetika..

Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ini terdiri dari tiga bagian dengan 3 tingkat, yang mana tiap tingkatannya mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Dan untuk menuju ke tiap tingkatan atau bagiannya, kita harus menapaki anak tangga yang lumayan banyak. Jadi anda harus siap-siap capek jika mau datang ke sini. Wajar sih, secara kan lokasinya juga di dekat sebuah gunung yang biasanya rata-rata kontur areanya menanjak..

Dan berikut ini adalah hasil foto-foto saya selama berkunjung ke sana pada hari minggu kemarin itu:

penampakan pintu masuk buat ke area tempat ini, yang mana konturnya sudah menanjak

sebelum lebih jauh mengexplore tempat ini, TSnya selfie dulu ah..hehe

sebuah plang pengumuman yang berisi aturan atau himbauan buat para pengunjung

*plang ini letaknya ada di samping anak tangga pintu masuk

seperti inilah pemandangan yang terlihat di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta untuk tingkat pertama ini

*kayanya ini semacam bale-bale buat para pengunjung gitu deh

dan ini salah satu bentuk balenya jika dilihat dari dekat, yang kebetulan ukurannya lebih besar dari yang lain

jalan akses tangga untuk menuju ke tingkatan yang kedua

lagi, sebuah papan pengumuman atau himbauan yang berdiri tegak di samping jalan akses tersebut

oh ya di sekitar tangga itu juga ada sebuah sesajen (atau apa ya namanya?), yang terpajang di sisi depan bagian kiri

dan inilah spot-spot pemandangan yang saya jumpai di Pura tingkatan yang kedua..tampak terlihat ada sebuah area khusus buat tempat beribadah

di tingkatan kedua juga kala itu saya menemui orang-orang yang sedang melakukan ritual ibadah di tempat ini

nah kalau ini jalan akses tangga buat menuju tingkatan yang ketiga atau yang paling atas

sedikit pemandangan di area Pura tingkatan yang kedua, jika dilihat dari tingkatan ketiga

adapun ini adalah spot-spot pemandangan yang terlihat di area Pura tingkatan ketiga..tampak juga terlihat di sini (pada saat itu) sedang ada orang-orang yang sedang melakukan ritual ibadah..cuma kali ini jumlah orang-orangnya lebih banyak


Nah sekarang bagaimana menurut anda tempat ini? Cukup menarik bukan?

Kalau menurut saya mah lumayanlah, jika sekedar buat sekedar foto-foto dan kemudian di upload di media sosial. Karena tempatnya asri, sejuk dan indah serta dekat gunung pula. Selain itu tempat ini juga bernilai historis dan berseni tinggi. Jadi buat anda yang suka berwisata alam dan kebetulan suka juga tempat-tempat wisata yang punya nilai sejarah dan seni, maka tempat ini sangat cocok buat dijadikan rekomendasi..

Akan tetapi jika anda berminat mengunjungi tempat ini pada suatu saat nanti, anda harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini serta berikut tipsnya:


- Tempat ini buka untuk umum

- Selama di sana harap menjaga ketertiban dan peraturan yang diterapkan oleh pengelola tempat ini. Selain itu, harap anda tidak membuat kegaduhan atau keributan selama berkunjung di sana. Apalagi jika kebetulan tempat ini sedang ramai orang yang beribadah.

- Untuk anda yang fobia sama binatang Anjing, harap hati-hati selama berada di sana. Karena di tempat ini cukup banyak anjing berkeliaran walau rata-rata anjingnya jinak-jinak.

- Disarankan kalau mau ke sana di waktu pagi saja. Soalnya hawanya bikin adem. Jadi nanti kalau kecapean, nggak bikin tubuh panas dan gerah.

- Untuk akses ke lokasi tempat ini apabila menggunakan kendaraan umum, hanya bisa dicapai dengan angkot 03 rute Ciapus-Bogor tapi khusus yang ke arah Warung Loa. Nanti naiknya dekat area Mall BTM (Bogor Trade Mall). Sedang untuk akses dengan kendaraan pribadi (mobil/motor), saya kurang faham.


Demikianlah saudara-saudaraku sebangsa dan setah air, field report jurnal wisata saya kali ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan atau bisa menjadi sumber inspirasi dan refrensi anda, terkhusus jika anda punya niatan berkunjung ke Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ini..


Bye bye and salam blogger mania..


Baca juga:

Mencoba Merasakan Sensasi Jembatan Gantung Di Situ Gunung


Post a Comment

0 Comments