8 Amaliyah Ciri Khas Warga NU

logo NU (sumber gambar: tarbawiyah.com)

Organisasi NU memang terkenal mempunyai berbagai macam amalan yang khas. Tradisi pewarisannya bisa dibilang cukup panjang. Bahkan mungkin ini sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Meski begitu, terkadang ada juga yang mempertanyakan keabsahan terkait amaliyah-amaliyah ini..

Nah pada thread kali ini, saya akan membahas tentang amaliyah-amaliyah tersebut beserta penjelasannya:

1. Tahlilan

Tahlilan adalah salah satu ciri khas kaum NU. Bahkan untuk mengetahui seseorang NU apa tidak, cukup dilihat dari apakah seseorang itu suka atau sering ikut kegiatan tahlilan atau tidak. Tahlilan sendiri adalah sebuah kegiatan yang dilakukan bersama oleh kalangan NU yang berisi pembacaan dzikir, tasbih, tahlil, tahmid, ayat Al-qur'an dan lain sebagainya. Biasanya acara ini diselenggarakan dalam berbagai momentum di kalangan NU. Akan tetapi yang paling jamak adalah ketika mendoakan seseorang yang sudah meninggal. Biasanya dilakukan pada malam hari pertama sampai hari ketujuh, terus hari ke empat puluh dan lalu berlanjut hari ke 100, 1000 serta haul di setiap tahunnya..

2. Ziarah Kubur

Warga NU akrab sekali dengan budaya ziarah kubur. Seperti mendatangi makam para auliya, ulama atau kyai yang pernah jadi panutan masyarakat, tokoh pahlawan bangsa ini, dan atau arwah para leluhur yang dihormati, dengan sambil membaca bermacam-macam doa disana. Jangan dimaknai kaum NU melakukan ritual ini semata-mata berdoa atau meminta kepada kuburan. Tapi melalui wasilah ini, mereka merasa lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa dan mengingatkan mereka bahwa kehidupan di dunia ini pada hakikatnya adalah fana dan tidak kekal..

Khusus untuk ziarah makam para aulia atau para wali, bahkan sudah menjadi tradisi. Biasanya para jama'ah NU melaksanakan kegiatan ini secara rombongan. Sementara jika ke makam para leluhur, biasanya dilakukan pada saat moment datangnya hari raya Idhul Fitri atau hari-hari tertentu yang "disakralkan" oleh orang-orang NU..

3. Maulid Nabi

Untuk menunjukan kecintaannya kepada Nabi Muhammad, warga NU sering sekali mengadakan kegiatan bernuansa keagamaan dalam berbagai bentuk, terkhusus di bulan kelahiran Nabi Muhammad yaitu bulan Robiul Awwal. Seperti misalnya pembacaan kitab Maulid Dibaan atau Barzanji, pengajian dalam bentuk Tabligh Akbar dengan mengundang seorang penceramah serta dan lain sebagainya, dengan tujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Meski kegiatan ini banyak dipertentangkan oleh kaum atau golongan tertentu (dengan dalih tidak memiliki dasar yang kuat), namun sampai dengan saat ini warga NU masih tetap istiqomah melakukan kegiatan-kegiatan ini. Sebab kami pun sebagai warga NU, mempunyai dalil-dalil yang cukup kuat sebagai landasannya..

4. Istighosah

Istighosah memiliki arti memohon pertolongan kepada Allah SWT. Oleh warga
NU biasanya kegiatan ini dilaksanakan secara berjamaah atau bersama-sama dalam suatu majlis, di sebuah masjid atau di lapangan terbuka. Dalam skala besar, wadah organisasi kebanggaan kaum Nahdliyyin yaitu PBNU sering sekali mengadakan kegiatan ini yang dalam rangka menyambut hari-hari tertentu, dengan tujuan untuk mendoakan bangsa ini agar terhindar dari sesuatu yang tak diinginkan dan atau untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan buat negeri ini..

5. Qunut

Cobalah anda sholat Subuh di suatu tempat. Bila dalam tempat tersebut para jamaahnya sebagian besarnya membaca do'a Qunut, maka dapat dipastikan di tempat itu mayoritasnya adalah warga NU. Karena memang do'a Qunut ini adalah salah satu amalan khasnya warga NU, terutama saat mengerjakan sholat Subuh..

Bacaan do'a Qunut sendiri terbagi menjadi 3 macam. Dan berikut ini adalah penjelasannya:

1. Qunut Subuh: dibaca di setiap sholat Subuh pada rakaat kedua atau tepatnya setelah I'tidal. Dalam mazhab Imam Syafii yang notabene mazhab yang dipakai oleh warga NU, hukumnya adalah sunnah ab'ad atau sunnah yang sangat-sangat dianjurkan sekali.

2. Qunut Nazilah: do'a Qunut dibaca oleh warga NU ketika sedang menghadapi kesusahan, musibah, tantangan atau ujian hidup, atau dan lain sebagainya. Biasanya dibaca pada setiap sholat-sholat wajib (tentunya selain sholat Subuh), sedang untuk hukumnya adalah sunnah.

3. Qunut Witir : do'a Qunut ini dibaca pada rakaat terakhir solat Witir dalam sholat Tarawih, utamanya pada malam ke 16 sampai dengan malam ke 30 bulan Ramadhan.

6. Talqin

Talqin adalah amaliyah warga NU disaat ada saudaranya yang meninggal dunia. Kata Talqin sendiri
berasal dari Bahasa Arab yang artinya memahamkan atau mengingatkan. Talqin biasanya dibacakan dalam bahasa arab, namun di beberapa daerah tertentu sering juga dibacakan dalam Bahasa Jawa..

Adapun tata caranya orang yang menalqin adalah berposisi duduk di hadapan kepala mayyit. Sedangkan para hadirin dianjurkan untuk berdiri. Dan orang yang membacakannya biasanya adalah seorang ulama atau kyai setempat, atau terkadang juga oleh tokoh sesepuh masyarakat setempat, yang tentunya sangat dihormati di daerah itu..

7. Adzan 2 Kali Dalam Sholat Jum'at

Pada setiap menjelang sholat Jumat terutama di masjid-masjid warga NU, biasanya ada seorang laki-laki yang berdiri sambil memegang tongkat, saat sang Khotib (pembaca khotbah) hendak naik ke mimbar. Setelah sang Khotib naik mimbar, lalu kemudian orang itu membacakan sebuah hadits Nabi yang berisi anjuran kepada para jama’ah dan lalu diakhiri dengan kumandang adzan..

Adzan ini bukanlah penanda datangnya waktu sholat sebagaimana biasanya. Tetapi adzan ini merupakan penanda bahwa prosesi kegiatan sholat Jum'at di masjid tersebut telah akan dimulai. Sedang untuk adzan penanda datangnya waktu sholat biasanya dilakukan beberapa saat sebelumnya. Jadi di masjid-masjid NU itu adzannya bisa 2 kali dalam setiap sholat Jum'at dan ini pun jadi ciri khas amaliyah warga NU..

Warga NU mempraktekkan amalan ini karena hendak meniru pada zaman Sahabat Utsman. Selain itu amalan ini juga sering dipraktekkan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi..

8. Tingkepan

Acara ini berbentuk pembacaan doa dan pemberian sedekah dalam rangka tujuh bulan kehamilan seorang wanita yang baru pertama kali hamil. Dan biasanya disela-sela acara dibacakan surat Yusuf dan surat Maryam oleh para jamaah atau hadirin (yang datang ke acara tersebut), dengan harapan agar kelak jika anaknya lahir bisa setampan Nabi Yusuf jika laki-laki atau secantik Siti Maryam jika perempuan. Selain itu tentu saja acara ini bertujuan untuk mendoakan sang ibu agar kelak bisa melahirkan dengan selamat (pas waktunya) serta janin yang dikandungnya lahir dengan selamat pula..

Demikianlah informasi yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga bisa bermanfaat dan salam NU saklawase..

Post a Comment

6 Comments