4 Tipe Pengurus dan Jama'ah NU

lambang organisasi NU (sumber gambar: duta.com)



Di dalam organisasi Nahdlatul Ulama atau NU, ada aturan, norma dan etika berjama'ah dan berjam'iyyah. Selain itu juga berjuang di NU memerlukan waktu, energi serta dana atau materi yang jumlahnya kadang tidak sedikit. Dan kesemuanya itu wajib dikelola secara jam'iyyah..


Terkait hal itu, saya merangkum setidaknya ada 4 tipe pengurus atau jama'ah NU menurut sudut pandang kemampuan, cara berfikir dan input yang diberikannya terhadap organisasi. Keempatnya ini semuanya punya nilai plus minus, tergantung dari aspek mana kita menilainya..


Lalu, seperti apakah keempat tipe pengurus atau jama'ah NU yang saya maksud di atas? Berikut ini adalah penjelasannya untuk anda..


1. Ada yang punya waktu, tapi tidak punya dana


Biasanya tipe pengurus atau jama'ah yang seperti ini adalah orang-orang yang militan di organisasi NU. Baginya hadir dan mengurus NU (termasuk hadir ke acara-acara NU di tingkat apapun), adalah sebuah dedikasi yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Padahal yang bersangkutan bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa termasuk materi. Yang ia punya hanyalah ghiroh yang kuat, dengan niat untuk berjuang dan berkhidmat di organisasi NU..


2. Ada yang punya dana, tapi tidak punya waktu


Biasanya pengurus atau jama'ah yang seperti ini merasa tak punya skill atau keahlian (tertentu) di organisasi NU. Selain itu dirinya juga tak punya cukup waktu untuk mau terjun jadi pengurus NU. Akan tetapi tekadnya untuk berkhidmat di NU sangat besar dan satu-satunya "kelebihan" yang dia punya itu adalah bahwa dia punya cukup banyak materi. Nah biasanya orang-orang yang seperti ini akan menggunakan materinya untuk sumbangsih NU, karena dia merasa hanya dengan cara inilah dia bisa ikut membantu dan memperjuangkan organisasi NU..


3. Ada yang punya waktu dan punya dana


Kalau tipe pengurus atau jama'ah yang ini, adalah perpaduan dari tipe satu dan dua yang sebagaimana saya bahas sebelumnya. Bagus sih bahkan mungkin hampir dikatakan  sempurna; punya waktu dan dana sekaligus untuk mengurus NU. Namun sayangnya tipe pengurus yang begini langka..


Meski demikian terkadang tipe pengurus yang seperti ini cenderung punya sifat perfeksionis. Bagus sih, karena ia akan menuntut sesuatu itu harus sempurna (atau minimal mendekati) dari sudut pandang matanya. Cuma kan nggak semua sudut pandangnya itu sama dengan yang bersangkutan. Alhasil nanti ujung-ujungnya kita bisa sering berselisih faham dengannya..


4. Ada yang tidak punya waktu dan juga tidak punya dana, namun pintar mengkritik dengan tanpa memberi solusi


Nah kalau yang ini tipe pengurus atau jama'ah yang cuma modal nama atau tampang doang. Sementara sumbangsihnya hampir dikatakan tidak ada sama sekali. Yang miris sudah mah "jasanya" nggak ada untuk kemajuan organisasi, eh yang ada dirinya malah sering mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh organisasi dengan tanpa memberi sedikit pun solusi..


Akan tetapi tipe yang di atas menurut saya sebenarnya "masih mendingan". Soalnya di luar itu, ada juga yang bahkan ngaku-ngaku sebagai orang NU atau pengurus NU. Tapi hobinya suka mengkritik NU, dengan dalih merasa paling tahu soal organisasi NU. Padahal mah yang bersangkutan terkadang cuma ikut-ikutan. Sementara perjuangannya di lapangan untuk NU, nol besar alias tak pernah ada..


Dari kesimpulan di atas, sekali lagi tidak ada yang lebih baik dari satu kelompok dibanding kelompok lainnya. Semua punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing..


Tidak semua pengurus atau orang NU harus punya dana, pun begitu tidak semua pengurus atau orang NU harus selalu menyisihkan waktunya untuk organisasi NU. Akan tetapi semuanya harus berjama'ah dan bersinergi dalam jam'iyyah Nahdlatul Ulama..


Pengurus yang punya waktu, tidak akan dapat menjalankan organisasi jika tidak didukung oleh pengurus yang punya dana. Sebaliknya pengurus yang punya dana namun terganjal dengan kesibukan, tidak akan dapat menjalankan organisasi dengan baik jika tidak didukung oleh pengurus yang punya banyak waktu..


Selanjutnya pengurus yang punya dana atau pengurus yang punya waktu, tidak akan dapat mensukseskan program atau kebijakan organisasi jika tidak didukung oleh para jama'ah. Jadi semuanya itu harus bersinergi antara pengurus tipe A atau tipe B, dengan para jama'ahnya itu sendiri..


Ibarat ada paku besar, ada paku sedang dan ada paku kecil. Semuanya tentu sangat diperlukan jika kita ingin mengokohkan sebuah bangunan. Dan pastinya semuanya punya peran dan fungsinya masing-masing di setiap lini bangunan tersebut. Pun begitu dengan organisasi NU, yang tentunya akan kokoh jika setiap lininya menjalankan tugasnya masing-masing dengan sesuai kapasitas dan kemampuannya, dengan tanpa ingin menonjolkan kelebihan yang dimilikinya ke orang lain..


Di setiap tingkatan NU, semua macam pengurus ada dan keikhlasan setiap pengurus itu berbeda-beda plus cara mengekspresikannya. Sikap merasa lebih baik dari yang lain, hanyalah sebagian tanda kekurangan sikap tawadlu dalam berjama'ah dan berjam'iyyah di organisasi NU..


Momentum Pilkada dan atau Pemilu, adalah momentum yang tepat untuk mendewasakan jiwa dan spirit organisasi serta sekaligus membuka karakter dan watak asli dari setiap pengurus. Ada karakter seperti gunting, yang berjalan menggunting dan memisahkan persatuan. Ada juga karakter seperti jarum, yang menusuk dan mempersatukan bagian yang terpisah. Keduanya akan senantiasa kita lihat di kedua event tersebut..


K.H Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berpesan:"Kalau anda tidak ingin dibatasi, maka janganlah anda membatasi. Karena kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing-masing"..


Semoga tulisan ini bisa memberi iktibar dan atau hikmat kepada kita semua, terutama buat warga NU dimana pun berada. Wallahu a'lam..


*artikel asli ditulis oleh Kang Ichsan (Aktivis NU dati Kab. Sukabumi), dengan beberapa sedikit perubahan

Posting Komentar

0 Komentar