5 Bekal Menjadi NU Menurut KH. Ali Maksum

lambang bendera organisasi NU (sumber gambar: kabar24.bisnis.com)



Menjadi warga NU ntah itu menjadi seorang pengurus struktural atau cuma sekedar ingin menjadi jama'ahnya saja, memang tak perlu mempunyai syarat tertentu. Asalkan niatnya benar-benar tulus memang ingin berkhidmat di NU, maka selama itu pula tak ada larangan dan atau tak ada halangan buat siapa pun..
 
 
Akan tetapi sekedar mempunyai niat yang baik saja nggak cukup. Karena yang bersangkutan harus faham tentang ke-NU-an, termasuk sejarah berdirinya organisasi tersebut. Nggak cuma itu saja. Tingkah laku plus tutur katanya pun sebisa mungkin harus mengikuti orang-orang NU kebanyakan..
 

Jangan cuma modal ngaku saja, namun perilakunya justru jauh atau keluar dari karakter khas NU selama ini. Sebab orang-orang yang model seperti ini, malah akan membuat citra NU jadi sedikit negatif di masyarakat. Terutama sekali bagi masyarakat awam yang tidak tahu tentang NU..
 

Lalu seperti apa sih idealnya kalau mau "diakui" menjadi warga NU? Mengutip dawuhnya Almaghfurlah KH. Ali Maksum yang juga merupakan mantan Rois Aam PBNU (1980-1984), untuk bisa menjadi warga NU setidaknya anda harus mempunyai 5 bekal. Dan bekal ini penting buat menjadi pedoman dan pegangan anda dalam ber-NU...


Dan kelima bekal itu adalah sebagai berikut:


1. Bekal yang pertama ialah tahu tentang ilmunya Nahdlatul Ulama (Ilmul Ulama).


Maksudnya orang NU harus tahu akan tujuan didirikannya NU. Menurut Kiai Hamid Mannan, NU didirikan karena memiliki tiga tanggung jawab. Pertama tanggung jawab keagamaan (mas’uliyah diniyah), kedua tanggung jawab kenegaraan (mas’uliyah wathoniyah) dan ketiga tanggung jawab kemasyarakatan (mas’uliyah ijtimaiyah)..
 

2. Bekal yang kedua adalah memiliki rasa kepercayaan penuh terhadap NU (Assiqatu Binahdhotil ulama).


Maksudnya warga NU harus percaya penuh kepada pemimpinnya. Seperti misalnya jika warga NU berada di ranting, maka harus percaya kepada ketua rantingnya. Atau jika di cabang, maka harus percaya kepada ketua cabangnya. Dan begitu seterusnya sampai ke tingkat pusat atau dalam hal ini PBNU..
 

3. Bekal yang ketiga adalah selalu beramal sesuai dengan ajaran NU (Al-'amalu Binahdotil 'Ulama).


Maksudnya amalan sehari-sehari warga NU, harus mengacu kepada ketentuan dan metode yang sudah ditetapkan oleh NU. Dan itu berarti warga NU tidak boleh menerapkan amalan-amalan yang bukan amalan orang NU..
 

4. Bekal keempat ialah berjihad di jalan NU (Al-jihadu fi Sabili Nahdotil 'Ulama).


Jihadnya orang NU tidak sama dengan organisasi lainnya. Seperti contoh warga NU tidak suka berjihad dengan cara kekerasan. Maka dari itu, untuk memerintah kebaikan pun harus menggunakan cara yang baik dan bukan memakai kekerasan (amar makruf bil makruf). Dan begitu pula ketika mencegah kemungkaran, maka dilakukan dengan cara yang baik pula (nahi munkar bil makruf)..
 

5. Bekal yang kelima adalah sabar berada di NU (Assobru Binahdotil 'Ulama).


Berjuang di NU itu harus sabar serta tidak sombong dan menghargai orang lain. Selain itu berjuang di NU juga harus tetap mengedepankan akhlaqul karimah. Sebab ini mengacu kepada perjuangan awal Nabi Muhammad SAW yang ketika itu beliau berjuang untuk melakukan perubahan moral. Setelah itu barulah kemudian disertai dengan dakwah perubahan aqidah..


Itulah setidaknya bekal-bekal yang harus dimiliki warga NU, sebagaimana pesan yang pernah diucapkan oelh KH. Ali Maksum, salah seorang ulama masyhur dari kalangan NU pada masa lampau. Sekilas seperti gampang buat kita mengaplikasannya di lapangan. Namun pada prakteknya, terkadang sulit. Bahkan kami pun merasa belum sepenuhnya mengamalkan bekal-bekal tersebut selama ini..


Demikianlah informasi yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga bisa bermanfaat, terutama sekali buat anda para warga NU dimana pun anda berada. Dan semoga juga kita semua di beri keistiqomahan dalam jama'ah dan jam'iyyah NU ini..


Terakhir dari kami mohon dihaturkan pintu maaf yang sebesar-besarnya, apabila ada salah-salah kata atau kalimat yang kami tulis di postingan ini. Karena kami sadar, kalau kami cuma kader NU yang ecek-ecek dan masih dalam tahap belajar dalam setiap hal..


*dikutip dari berbagai sumber

Posting Komentar

6 Komentar