Mengenal Tradisi Ngajojoan, Sebuah Tradisi Kematian di Sebagian Tanah Pasundan


ilustrasi sebuah acara Tahlilan, salah satu tradisi kematian yang umumnya banyak ditemui di masyarakat kita (sumber gambar: nu.or.id)



Kabut duka masih menyelimuti rumah kami. Padahal sudah sepekan berlalu orang yang kami sayangi dan kami cintai, wafat dan meninggalkan kami. Ya dialah ayah kandung saya. Kepergiannya ke alam baka yang begitu mendadak, membuat saya dan sekeluarga seperti shock dan tidak percaya atas apa yang terjadi dengan ayah kami..


Akan tetapi kami yang ditinggalkan, kemudian sadar bahwa mungkin itu sudah garis nasib kami dan kami pun sadar bahwa mungkin ayah kami memang sudah waktunya kembali ke pangkuan Sang Pencipta, dalam keadaan tak memberi "sinyal dan aba-aba" dahulu kepada kami. Dan pada akhirnya kami pun ikhlas buat menerima kepergiannya..


Dan dalam keadaan seperti itu, untuk mengisi kekosongan kiriman do'a pasca acara tradisi Tahlilan selesai kami lakukan dari hari pertama sampai hari ke-7, kami kemudian mengadakan tradisi Ngajojoan di setiap kamis malam atau malam jum'at. Tradisi ini kemudian kami rutinkan sampai dengan menjelang hari ke-40 hari meninggalnya ayah kami..


Ngajojoan? Hemmh, tradisi apa itu?


Mungkin anda yang baru pertama kali mendengar istilah itu, akan mengernyitkan dahi sebagai pertanda bingung dan atau merasa tak faham. Kalau benar demikian, berarti kita setubuh. Soalnya saya secara pribadi juga pada saat itu baru pertama kali mengetahui tentang tradisi tersebut..


Memang apa sih tradisi Ngajojoan itu? Dan bentuknya seperti apa?


Ngajojoan adalah sebuah tradisi dalam bentuk kirim-kirim do'a ke orang yang telah meninggal, sebagaimana layaknya tradisi Tahlilan. Untuk pelaksaannya dilakukan di setiap malam jum'at, dari pasca 7 hari sampai dengan menjelang 40 harinya orang meninggal tersebut..


Jadi sebenarnya tradisi Ngajojoan itu ya tradisi Tahlilan juga. Hanya beda nama dan istilah doang. Sedang arti atau makna dari istilah tradisi itu berasal dari bahasa Sunda. Dulu saya sempat ingat dan hafal, karena pernah ada yang menceritakannya. Namun kemudian saya lupa lagi.. #maafyagaess


*sekarang ini saya sedang mencari-cari info tentang perihal tersebut


Dan terkait tradisi Ngajojoan ini, sebelum keluarga kami mengadakannya, tradisi tersebut tidak begitu dikenal di daerah saya atau tepatnya di Kota Bogor dan sekitarnya. Justru tradisi itu mulai dikenal saat peristiwa meninggalnya ayah saya tersebut. Soalnya sejak itu masyarakat lain juga mulai sering melakukannya. Ya minimal di daerah kampung saya..


FYI: almarhum ayah saya wafat pada pertengahan tahun 2005


Itu pun awalnya keluarga kami menyelenggarakan karena ada anjuran dari saudara kami yang dari Cianjur. Kebetulan di sana katanya tradisi ini sudah turun temurun dilakukan, ketika ada orang yang meninggal. Jadi pada saat itu keluarga kami manut saja, karena toh ini kan tradisi dengan tujuan baik. Apalagi secara "rupa dan bentuk" kurang lebih sama dengan tradisi Tahlilan..


Kalau kemudian ada yang bertanya; apa perbedaan spesifik antara tradisi Tahlilan dengan tradisi Ngajojoan?


Sebagaimana yang sudah saya jelaskan di paragraf enam sebelumnya, bahwa sejatinya dua nama tradisi itu tidaklah jauh berbeda. Hanya beda istilah saja. Kalau Tahlilan itu untuk acara kirim-kirim do'a buat yang meninggal atau selamatan tuan rumah dalam hal-hal kebaikan. Sedang kalau Ngajojoan itu acara khusus untuk kirim-kirim do'a buat yang meninggal di waktu yang sudah ditentukan..


Perbedaan lainnya adalah kalau Tahlilan bisa dilakukan dengan cara yang "mewah dan meriah", atau bisa juga dilakukan dengan cara sederhana. Dan itu tergantung kemampuan dari sang tuan rumah. Sedang kalau Ngajojoan biasanya dilakukan dengan cara yang sangat sederhana sekali. Bahkan termasuk suguhan buat para tamu yang diundangnya..


Seperti misalnya di kampung saya, yang biasanya diadakan dengan cukup mengundang tetangga dekat saja. Suguhannya pun nggak perlu semacam berkat atau nasi box. Tapi cukup dengan kopi, rokok dan makanan-makanan cemilan ringan atau dan sejenisnya. Bahkan saking sederhananya, terkadang tak perlu mengundang seorang kyai besar buat memimpin do'anya. Namun cukup ustadz setempat saja..


Kira-kira seperti itulah penjelasan tentang Ngajojoan, sebuah tradisi acara kematian yang ada di daerah saya, yang secara teknis acaranya kurang lebih sama dengan tradisi Tahlilan pada umunya. Ntah saya kurang tahu, apakah di daerah lain (meski di wilayah Kota Bogor juga) ada atau tidak tradisi ini. Pun begitu selain di kota Cianjur, yang notabene daerah asal muasalnya tradisi tersebut..


Saya juga tidak tahu, apakah di daerah Jawa Barat lain tradisi seperti ini sering dilakukan atau tidak. Namun yang jelas menurut saya, tradisi ini menjadikan khasanah baru dalam budaya dan adat istiadat di Indonesia, terutama sekali di daerah saya yakni wilayah tatar sunda dan sekitarnya. Dan pastinya saya secara pribadi bangga dengan hal itu..


Dan tradisi Ngajojoan ini juga sekaligus menambah tradisi-tradisi sebelumnya sudah mengakar di masyarakat kita, terkhusus yang berhubungan dengan orang meninggal. Seperti misalnya Kendurian atau Tahlilan hari ke-1, 2, 3 dan seterusnya sampai dengan hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100 dan hari ke-1000 serta acara Haul yang diperingati setiap tahunnya..


Memang secara isi atau bentuk sama saja. Karena intinya sama-sama kirim do'a buat orang yang meninggal. Namun sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, bahwa tradisi ini sesungguhnya bisa menambah khasanah baru buat masyarakat kita. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita melestarikan tradisi ini..


Oke demikianlah cerita dan informasi yang bisa saya share pada hari ini. Yang mana pada kesempatan kali ini membahas tentang tradisi Ngajojoan, sebuah tradisi yang awalnya saya kenal pada saat ayah saya wafat di tahun 2005 atau sekitar 15 tahun yang lalu..


Semoga kisah yang tulis ini bisa bermanfaat untuk anda. Tak lupa saya pun memohon maaf apabila ada salah-salah kata atau kalimat dalam penyampaiannya. Dan terakhir jangan bosan-bosan ya untuk datang kemari. Karena selalu ada post-post menarik yang sayang kalau anda lewatkan.. Hehe

Posting Komentar

10 Komentar

  1. kearifan lokal yang pastinya penuh filosofinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul gan. Sya jga sepakat.. 👌👍👍

      Hapus
  2. Di aku namanya beda euy.
    Tahlilan bukan sih��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sebenarnya "isinya" tahlilan jga. Cuma beda istilah aja gan..

      Hapus
    2. Ane juga orang bogor gan ... sma ada tradisi ngajojoan cuman disini istilahnya 40 harian ... kalo 100 hri namnya natus ...


      Kunjungi balik yh gan, dan tinggalin komen,

      https://aisurunihongo.blogspot.com/2021/02/lirik-terjemahan-namie-amuro-hope-one.html?m=1

      Hapus
    3. Emang agan bogornya dimana?

      Btw kayanya agan gagal faham deh. Ngajojoan itu bukan 40 harian tpi tahlilan tiap malam jum'at sebelum hari ke 40..

      Di daerah sya jga ada istilah 40 hari..

      Hapus
  3. Saya pribadi meyakini bahwa tradisi ini adalah bidah.

    Sehingga tidak boleh dilestarikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, kalau anda menganggap ini bid'ah, berarti tahlilan jga termasuk donk! 🤔🤔🙄

      Hapus
  4. "Ngajojoan adalah sebuah tradisi dalam bentuk kirim-kirim do'a ke orang yang telah meninggal, sebagaimana layaknya tradisi Tahlilan."

    Berarti berkirim doa adalah juga tradisi kita...

    Tulisan menarik.... Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kira2 spt itulah intinya..

      Oke, thank's ya mas udah berkunjung lgi kemari.. 😊

      Hapus